Rolling Stone edisi khusus!!!! Buruan…!!!!

•Desember 5, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

HHHHaaaiiiikkkk……….

Gak trasa taon 2007 dah mau abis nih, dah di penghujung jalan…. Belantika musik Indonesia selama 1 taon ini diisi oleh berbagai Band2 baru dengan masing2 genre musik yang dianut. Tapi sayangnya, kualitas musik tanah air, apakah itu Band-nya dan apakah itu kita sebagai penikmat, mengalami penurunan. Banyak Band2 baru yang punya skill dan lirik lagu yang serba pas-pasan bisa nembus pasar dan masuk ke major label. Ditambah lagi lagu2nya gak jauh2 dari kisah cinta, diputusin, ketauan selingkuh, atau kisah manusia yang jadi player….

Hahhhh,jenuh nih 1 taon ngadepin musik yang hampir sama, yang isinya itu2 aja, gak berbobot…. Dan yang lebih disayangkan itu tentang redupnya musik aliran metal core!!!! Padahal, kalo seandainya musik ini bisa diterima di pasar, musik ini bisa sedikit menambah warna/i musik dan membangkitkan semangat….

Untunglah Rolling Stone Indonesia mengeluarkan edisi khusus yang di dalamnya memuat 150 album Indonesia Terbaik. Polling yang dibikin juga cukup objektif. Album dan musisi yang masuk ke dalamnya harus melalui beberapa tahap yang cukup ketat (seketat sempak baru….hehehehe). Mungkin kalian akan sedikit heran dengan masuknya band2 atau singers yang gak gitu terkenal. Pasti RS punya banyak pertimbangan.
Rambu-rambu dalam pemilihan album-album terbaik ini justeru lebih mengacu pada pengaruh album, yaitu memberikan inspirasi terhadap pemusik di zamannya maupun setelahnya, memberikan pengaruh terhadap industri musik pop pada zamannya maupun sesudahnya serta album yang dipilih memiliki kualitas musikal di atas rata-rata. Dan juga album tersebut harus beredar di Indonesia.

Langkah awal, rolling stone sengaja mengundang sejumlah sosok dari berbagai bidang seperti pemusik, penyanyi, label rekaman, pengamat musik, dan kolektor musik untuk membuat list album-album terbaik versi mereka masing-masing. Bisa jadi yang namanya subyektivitas akan bergulir kencang di sini. Tapi toh dari list-list ini sebetulnya pelan-pelan mulai bisa terkuak pemetaan kondisi industri musik negeri ini sejak awal kemunculan piringan rekaman long play di penghujung tahun ‘50-an, lalu masuk ke era kaset di tahun ‘70-an serta era CD di tahun ‘90-an hingga kini.

List album-album ini lalu digodok secara keroyokan oleh tim Rolling Stone Indonesia bersama 4 kontributor : David Tarigan, Denny MR, Denny Sakrie, dan Theodore KS yang bahu membahu. Saling melengkapi. Saling merevisi. Debat dan brainstorming yang alot berlangsung 4 hari berturut-turut di kantor rolling- stone Indonesia di jalan Ampera Raya 16 terutama untuk menentukan peringkat.

Ini adalah hal yang lumayan sensitif terutama menimbang beberapa album musik dari era yang berbeda dengan genre musik yang juga tak seragam. Karena hasil list album-album terbaik ini setidaknya memang harus mencerminkan grafik historik perjalanan musik Indonesia dan juga penilaian musik berdasarkan visi dan filosofi rolling stone itu sendiri. Karena di mana pun, yang namanya polling dan sejenisnya sudah pasti akan menimbulkan pro dan kontra. Tapi jangan lupa, segala bentuk polling memang merupakan otoritas sekaligus tanggung jawab yang melakukannya. Dan, hasilnya juga tidak akan jauh dari fakta dan unsur bermuatan obyektivitas. Maunya memang harus begitu.

Dari hasil polling 150 Album Indonesia Terbaik pada akhirnya akan memetakan perjalanan musik Indonesia dengan pelbagai pergeseran trend musik yang berubah sesuai dengan kekinian. Dalam merengkuh 5 dasawarsa perjalanan musik Indonesia, ternyata musik Indonesia sarat de-ngan warna dan terobosan. Pengaruh mempengaruhi pun, merupakan sesuatu yang tak terhindari lagi.

Namun Rolling Stone juga menemukan fakta yang tak kalah menarik. Terkadang kami susah untuk mencari data dari album atau penyanyi dan pencipta album tersebut. Kita ternyata banyak melupakan sejarah musik Indonesia. Kita melupakan nama-nama yang telah ikut membentuk jati diri musik Indonesia. Untung masih ada segelentir sosok yang mengumpulkan artefak musik-musik langka negeri ini. Terimakasih untuk para kolektor dan pengamat dan penikmat musik yang mendokumentasikan musik bangsa ini dengan semangat dan biaya dari mereka sendiri.

Nah untuk lebih jelasnya, buruan deh kalian ke toko buku atau ke penjual majalah yang ada Rolling Stone nya. Trusss…di beli deh… dijamin gak nyesel deh. Pokoknya mantab….(promosi nih…).

Maju terus dunia musik Indonesia!!!!!!

CUKUP!!!!

makan enak…

•November 26, 2007 • 1 Komentar

Minggu malam kemaren (25 nov) aku lagi maen2 ke kamar andre. tiba2 mas anang dateng ngajak makan. Dia ngajak kami makan ke pesta pernikahan. Dia bilang makan gratis. Ntar kita masukin amplop isi 1000 aja.

Akhirnya aku, mas anang, andre, n kewer pergi ke gedung wanitatama. Di sana kami lihat banyak orang pake seragam AU. Ternyata yang nikah AU men…. Pangkatnya aja Letda (tapi juga gak ngaruh sih…). Kami berangkat ke situ cuma pake sendal aja. Kecuali mas anang yang pake sepatu, stel rapi euy….

 Jantung deg-deg serr juga…kayaknya anak jendral nih, keturunan ningrat juga coz banyak pake acara adat….megah banget pestanya coy.standing party gitu loh….hal pertama yang kami lakukan pertama kali masuk situ adalah clingak-clinguk…liat sikon ‘n mengamati stan makanan apa ja yang ada..

Pertama, mas anang ngambil softdrink. eehhhh yang lain ikut….trus aku sama mas anang pergi ke stan chicken teriyaki. Mantab booo…. tapi mas anang gak suka, katanya ayamnya asin… aku sih cuek aja, yang penting kenyang. mumpung gratis ‘n enak2, semua harus dicobain nih. Abis tu ngambil softdrink lagi…. Lanjut makan bakso malang. Kali ini andre ‘n kewer ikut ngantri. trus ngambil softdrink lagi….

Nah, saatnya makan nasi….. aku ngambil nasi, sop makaroni, cap cay, ayam bakar spesial, udang goreng tepung. yang jelas keliling piring penuh….aku aja sampe bingung makannya… yang lucu, waktu lagi ngantri ambil nasi ada bapak2 yang heran ngeliatin pori makan ku yang terbilang cukup “edan”… (nyantai pak, kita sama2 undangan….tapi kami undangan gelap hehehehehe…)

abis makan nasi ngambil softdrink lagi…..lanjut makan somay.somay nya agak aneh tapi mantap coy….

mas anang dah gak tahan, pengen pulang. katanya sih dah kenyang. padahal dia itu paling gemuk diantara kita ber-4. Lanjut lagi makan es krim…beeeuuhhh…mak nyos lah….abis tu makan buah. macem2 bro, pepaya, semangka, melon…..

rampung, akhirnya kami pulang setelah puas nyicipin makanan dan ngeliatin cewek2 yang cantik2…. (hehehehe…mulai deh ketauan jablay nya).

Ya, gitu deh…perut pun sudah membusung lapar eh salah membusung pertanda telah terisi penuh alias kenyang….

makasi ya pak tentara…sering2 aja bikin pesta kawin yang megah biar kita anak kos bisa makan gratisan…

pareng…..

Sejarah Rock ‘n Roll

•November 19, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Rangkaikata RocknRoll (räk’n roll‘) telah pertama kalinya disebut-sebut oleh penghebah radio (DeeJay) bernama Alan Freed dari Cleveland, USA pada tahun 1951. Beliau mengambil istilah tersebut dari lirik lagu “My Baby Rocks Me with a Steady Roll. Sudah menjadi kebiasaan di era itu, penggunaan perkataan-perkataan rock, roll, rock and roll, dll., dikaitkan dengan adegan-adegan ketika bersetubuh/bersenggama. Di waktu itu iaitu sebelum “rocknroll“, muzik irama “blues” telah berkembang di tahun-tahun 50an. Irama blues pula berpunca dari “rythm and blues”. Kesemua irama-irama tersebut mempunyai karektor yang sama iaitu, penggunaan gitar elektrik, rentak yang kuat, dan lirik-liriknya disuaikan untuk kaum muda-mudi. Blues telah muncul sebelum tahun 1950 lagi iaitu muzik pendatang dari benua Afrika. Dari dictionary.com, makna “rocknroll” adalah satu genre muzik popular bermula dalam tahun 1950an; adunan muzik bangsa kulit hitam “rhythm-and-blues” dengan muzik bangsa kulit putih “country-and-western“; perkataan “rock” pula adalah istilah yang dikeluarkan dari pelbagai stail yang bercambah dari “rocknroll.”

Antara artis “rocknroll” yang menonjol di era 50an adalah Bill Haley (Rock Around The Clock) , Buddy Holly (That will be the day), Carl Perkins, Chuck Berry (Maybelline), Elvis Presley (Jailhouse Rock), Fats Domino, Jerry Lee Lewis, Little Richard (Lucille), Muddy Waters, James Brown (I feel Good) dan ramai lagi.

Pada era awal lagu-lagu “rocknroll” menggunakan solo saksofon tetapi sekitar 1956, gitar letrik telah mula dijadikan alat solo utama. Walaupun artis seperti James Brown masih menggunakan saksofon, tetapi gitar lebih digemari ramai. Lagu-lagu hits seperti Jailhouse Rock (Elvis Presley) dan Rock Around The Clock (Bill Haley & The Comets) telah mengunakan gitar sebagai alatan utama.

Pada peringkat permulaan, rythm and blues cuma dinyanyikan dan didengari oleh orang negro. Lirik-lirik lagunya kebanyakan berunsur lucah , dan di gam untuk siaran radio. Sikap perkauman orang putih adalah musuh utama rythm and blues ketika itu. Lagu yang dikatakan yang telah membuat orang kulit putih mulai meminati lagu rythm and blues adalah lagu Sixty Minutes Man oleh The Dominos. Beratus ribu rekod telah dijual walaupun tanpa promosi siaran radio. Lagu Sh-Boom oleh kumpulan orang kulit hitam dari New York, iaitu The Chords telah menembusi carta lagu orang kulit putih pada tahun 1954.

Pada tahun 1955, lagu Maybelline dendangan Chuck Berry telah direkodkan dan boleh dikatakan asas kepada lagu rock, kerana beliau lah orang pertama yang menggunakan gitar letrik sebagai alat utama, dan mengenengahkan bunyi “descending pentatonic double-stops” (asas gitar rock)

Penghujung 50an dan awal 60an merupakan tahun kegelapan rocknroll di USA. Peminat muzik telah beralih selera kepada muzik yang lebih melodik dan suka berdansa. Lagu-lagu dari Paul Anka – Diana (1957), Pat Boone – Love Letters In The Sand (1957), Bobby Darin – Dream Lover (1959), Frankie Avalon – Why (1959), Fabian (Forte) – I’m a Man (1959), Bobby Rydell – Wild One (1960), Rick Nelson – Hello Mary Lou (1961), Bobby Vee (Velline) – Take Good Care Of My Baby (1961), dan Neil Sedaka – Breaking Up Is Hard To Do (1962), dan yang seangkatan telah mengambil alih.

Walaubagaimanapun masih ada kugiran-kugiran yang berkonsepkan rock-and-roll. Antaranya adalah lagu-lagu berikut:- Save The Last Dance For Me oleh The Drifters, Its In His Kiss oleh Betty Everett, Crazy Man Crazy oleh Bill Haley, Can’t Stay Mad At You oleh Skeeter Davis.

Penghujung 60an pula, di USA beberapa kumpulan awal irama rock muncul kebanyakan dari daerah Michigan. Antara lagu-lagu yang menarik adalah:- Who Do You Love oleh The Woolies dan Heavy Music oleh The Last Heard.

Lagu-lagu dari UK juga berkembang sama. Lagu-lagu dari kumpulan The Beatles (awal 60an) telah membangkitkan kegemilangan rocknroll semula dan begitu diminati ramai dan telah menembusi pasaran USA. Rock n roll kembali menyinari kancah muzik pop. Antara lagu-lagu berasal dari UK adalah:- Please Please Me – The Beatles, Apache oleh The Shadows, Shakin All Over oleh Johnny Kidd and The Pirates, Gloria oleh Them dan He’s In Town oleh Rockin’ Berries.

Zaman kegelapan telah mengevolusikan rocknroll. Oleh kerana pemuzik rock n roll tidak boleh lagi mengharapkan radio sebagai saluran untuk memperdengarkan lagu-lagu mereka, maka pemuzik2 tersebut telah mencampur adukkan rentak-rentak lain kepada rocknroll. Contohnya pada tahun 1957 lagu instrumental Rumble oleh Link Wray telah mencipta bunyi gitar “fuzz-tone” (konsep “power chord”); dan dalam tahun 1958, Eddie Cochran telah mengadun bunyi-bunyian dari alat muzik dan vokal dalam lagu-lagu Summertime Blues dan C’mon Everybody.

Inovasi-inovasi ini merupakan satu kejayaan kepada teknologi muzik tetapi di waktu itu, rock n roll tidak menjadi perhatian kepada penerbit album maupun pendengar muzik keseluruhannya.

Lagu-lagu Rock 50an tidak mementingkan kehalusan alunan dan bunyi. Tiada “rock n roll drive” yang menarik dan meninggi hingga membingitkan telinga. Gitar karan pun bunyinya biasa saja, tidaklah sehingga seperti bunyi mesin sedut habuk macam rock sekarang. Rekoding pun lebih kurang, dilakukan secara live, tiada efek stereo dan media rekod hanyalah piring hitam. Namun apabila zaman berubah dan teknologi berubah, kita lihat kumpulan-kumpulan Rock 60an seperti Rolling Stones telah meniru lagu Chuck Berry lebih baik daripada Chuck; Beatles meniru Carl Perkins; dan The Who membawa lagu Eddie Cochran – Summertime Blues dengan lebih lunak lagi.

Maka pada tahun 60an bermulalah cabang-cabang Rock. Antara lain cabang-cabang tersebut adalah Rhythm & Blues, Hard Rock, Heavy Metal, Arena Rock, Punk/Grunge, Roots Rock, Folk Rock, Celtic Rock, Jazz Rock, Mope Rock, Meta Rock dan Pop Rock.

Hikmah Kasus Adelin Desak Perlunya Pemetaan Hutan

•November 18, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Putusan Pengadilan Negeri Sumatera Utara yang membebaskan tersangka pembalakan liar, Adelin Lis, baru-baru ini menguatkan kembali desakan perlunya pemetaan hutan agar tidak menimbulkan tafsir berbeda-beda tentang pemanfaatan nilai ekonomi sumber daya hutan.

Pernyataan itu disampaikan oleh Mulfachri Harahap, Wakil Ketua Komisi III DPR-RI, dalam diskusi bertajuk “Hutan Kau Babat, Kau Kubebaskan”, yang digelar di Jakarta, Sabtu pagi. Menurut kader Partai Bulan Bintang itu, putusan bebas terhadap Adelin Lis muncul akibat berbedaan persepsi antara Menteri Kehutanan MS Kaban dan para aparat penegak hukum soal definisi pembalakan liar.”Menteri Kehutanan menganggap pembalakan liar adalah pemotongan kayu di luar lokasi izin HPH atau HTI dan hukumannya hanya berupa sanksi administatif serta denda,” katanya, “Sementara para penegak hukum menilai aksi pembalakan liar harus ditindak dengan hukum pidana.”

Persoalan muncul ketika peta HPH dan HTI tidak diawasi penggunaannya secara ketat, sehingga tak jarang para pemegang izin membalak kayu di luar kawasan yang mereka kuasai hak gunanya.Selain lemahnya pemetaan dan pengawasan, Mulfachri mengusulkan agar masalah kerusakan hutan di Tanah Air juga ditangani dengan kegiatan penanaman atau reboisasi. “Terutama di kawasan aliran sungai, yang bila gundul sangat rawan longsor dan banjir,” ujar dia. Jika sudah ditanami ulang, masih kata Mufachri, pemerintah harus menegakkan fungsi pengawasannya.”Kita memang sudah perlu memanfaatkan teknologi canggih untuk mengawasi hutan, kalau memang diperlukan dana 50 juta dolar Amerika misalnya, kenapa tidak?! Daripada kita harus rugi miliaran dolar akibat hutan gundul dan bencana alam terkait rusaknya hutan,” tegas pria yang berasal dari partai politik yang sama dengan MS Kaban itu.

Berbicara di forum yang sama, Menteri Kehutanan menilai putusan bebas Adelin Lis sudah terlalu banyak diwarnai kepentingan politik.”Terlalu banyak orang yang melihat masalah dari jauh lalu berkomentar, mempolitisasi tanpa melihat masalah dengan baik,” kata Kaban. Ia membantah dugaan pihaknya berada di belakangan putusan bebas Adelin Lis, dan malah balik mempertanyakan mengapa jaksa penuntut masih menggunakan pasal yang sama kepada Adelin padahal tersangka lain terbukti bebas di pengadilan bila dijerat pasal kerugian negara.Adelin Lis yang dituntut JPU dengan hukuman 10 tahun penjara dan denda Rp1 miliar dengan subsider enam bulan penjara itu merupakan pemilik dan Manager Keuangan PT Keang Nam Development Indonesia (KNDI) yang didakwa melakukan tindak pidana korupsi dan illegal logging (pembalakan liar) di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara.

Dalam putusan yang dibacakan hakim secara bergantian itu disebutkan, terdakwa tidak terbukti melakukan korupsi dan merugikan negara karena tidak menggunakan keuangan negara dalam melakukan penebangan kayu di Kabupaten Madina.Selain itu, menurut hakim, terdakwa terbukti telah membayar iuran Pemberdayaan Sumber Daya Hutan (PSDH) dan Dana Reboisasi (DR).

Majelis hakim menambahkan, terdakwa juga dinyatakan tidak terbukti melakukan pembalakan liar karena memiliki Hak Pengusahaan Hutan (HPH) melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 805 Tahun 1999.Sedangkan hasil penelitian dari saksi ahli yang menyatakan adanya kerusakan tanah di lokasi PT KNDI dinyatakan meragukan karena penelitiannya hanya dilakukan selama satu hari. “Oleh karena itu, terdakwa dinyatakan bebas dan majelis hakim memerintahkan kepada JPU untuk membebaskan terdakwa dari tahanan serta merehabilitasi nama baik terdakwa,” kata hakim.

Sebelumnya, JPU yang diketuai Harli Siregar, SH menuntut Adelin Lis dengan hukuman 10 tahun penjara dan denda Rp1 miliar dengan subsider enam bulan penjara.Adelin Lis didakwa telah menimbulkan kerugian keuangan negara dan telah menyebabkan rusaknya hutan di Kabupaten Madina yang merupakan bagian dari paru-paru dunia.

Adelin Lis dianggap bersalah dan secara dakwaan primer dituduh melanggar hukum seperti yang diatur dalam Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 Undang-undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 junto UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.Sedangkan dalam dakwaan primer kedua, Adelin Lis dianggap bersalah dan dituduh melanggar hukum sesuai Pasal 50 ayat (2) junto Pasal 78 UU Nomor 41 Tahun 1999 junto UU Nomor 19 Tahun 2004 tentang Kehutanan. Menanggapi putusan bebas ini, kejaksaan mengajukan banding dan akan kembali menjerat Adelin kali ini dengan pasal-pasal tindak pidana pencucian uang.

Pak Akhsin penipu

•November 15, 2007 • 1 Komentar

Hari ini sial….

Gara2 kuliah Pak Hermantoro kelamaan, aku jadi gak bisa ikut ke Paris bareng Pak Akhsin, Cak Munir, ‘n Andre…. Enak kali orang tu kemek2 di sana…awak cuma dapet ceritanya aja.

Andre bilang Pak Akhsin lagi banyak duit. Yaa kami minta traktiran laa….

Eh, dah lah kami nunggu2 buat dibeliin makanan, gak tau nya cuma ditipu2 aja…

katanya mau beli sate, tapi malah mau dibeliin roti bakar…. Udah gitu gak jadi pula tu…..huuuuaaaaaaa sial..sial…

Kenalin wooyyy…..

•November 15, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

 
Halllooooooooo……

Samlekom….
Piye kabare dhab….
Akhirnya website ku jadi juga…… Haahhhh…gak sia2 juga bisa belajar jauh ke jogja meskipun harus pisah jauh sama orang2 tercinta kalo akhirnya bisa bikin beginian…..

Hmmmmm sekedar buat permulaan gak ada salahnya aku ngenalin diri, siapa aku sebenarnya….ya biar kalian para pembaca tau benar siapa pemilik web ini sebenarnya…okeh???

Nama YOGA PRAWIRA YUDHA, daily called YOGA. Tapi semenjak kuliah di jogja dan satu kos dengan makhluk yang bernama Andre Yusuf, aku jadi dipanggil Abenk.

Lahir di Tebingtinggi a.k.a LRC (Lemank Rock City), Sumatera Utara tanggal 22 februari 1988. Anak ketiga dari 4 bersaudara hasil buah nikah 2 orang manusia yang saling mencintai dan benar2 waras….

Warna kulit item manis, tinggi 167 cm, dengan bobot yang lumayan enteng (54 kg) tapi atletis (sori kalo agak narsis hehehehe J), rambut ikal, lumayan modis (halah…lagi2 narsis), tampang agak brutal, tapi punya bakat untuk jadi playboy (huuuu,,,,sok laku). Sepatu ukuran 42, celana M/L (liat sikon) + baju M…..
Paling seneng makan, olahraga, dengerin musik, ngelamun, bertingkah gak jelas, ngobrol2, ‘n mlototin cewek2 cakep (wahahahahaaa ketauan deh buaya nya…)
Paling gak suka dibohongin apalagi dikhianati….Ceplas-ceplos, apa adanya, dan……

Udah punya seorang pacar yang cantik, baik hati, dan setia menungguku nun jauh di sana, diseberang lautan, di Tebingtinggi tercinta. (miss u everytime honey…)Yaahhh dah lumayan lama sama dia, jadian pertama kali tanggal 19 September 2001 di Perpustakaan SMP N 1 Tebingtinggi. (I still love you sweety…)

Sekarang sibuk kuliah di INSTIPER Jogjakarta Fak. Pertanian, ngurusin organisasi kemahasiswaan, dan sibuk mencari wanita yang mau dijadikan sebagai “kantor cabang” PT. Cintailah Aku Apa Adanya….Heheheheheeeee (jangan marah ya, sayang….kasihanilah pacarmu yang memegang status jablay ini…)

Hmmmmm….kayaknya segini dulu deh acara kenal2nya… Tar kalo kebanyakan kasih id malah kebongkar rahasianya…
Makhluk seperti aku ini juga kan butuh privasi (cieh….ngerti juga gak arti privasi)

Woke deh pren jangan lupa kasih komen ya……
Paling gak site ini bisa jadi salah satu media kalian untuk berkomunikasi jarak jauh sama aku. Mudah2an membantu….

NB: Tulisan ini untuk konsumsi usia di atas 17 tahun. Kerusakan permanent pada otak pembaca akibat tulisan ini tidak ditanggung penulis.

CUKUP!!!

Kelapa sawit dan para ‘raja’ kebun sawit

•November 15, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Hujan itu membasahi ladang sawit dan peneroka di rumah, sedang sakitBermimpi tentang keluarga makmur dalam peritBermimpi tentang turun naik harga sawit. Itu adalah sepenggal sajak bertajuk ‘Hujan Memasuki Ladang Sawit’ karya Arisel BA. Sajak itu memperlihatkan betapa harga sawit, yang baik dan buruk, mampu membawa hal itu ke dalam mimpi pelakunya (petani atau produsen).

Memang, di antara sekian banyak sektor yang menjadi andalan penerimaan devisa Indonesia, kelapa sawit dan produk turunannya, salah satu yang menonjol. Hingga 2005, total nilai ekspor komoditas pertanian ini US$4,7 miliar.

Sepanjang sejarah keberadaan tanaman ini di Indonesia, bangsa ini tidak pernah tidak menerima hasil. Komoditas ini, bahkan tidak pernah merasa letih untuk memberikan uang banyak kepada bangsa ini, kendati sering ‘diperas’. Bahkan, dari tahun ke tahun, pertumbuhan sumbangan sawit terus memperlihatkan prestasi yang mengesankan. Indikatornya, banyak orang menjadi kaya raya dari tanaman (Elaeis guineensis) yang asalnya dari Afrika Barat ini, baik sebagai pengusaha maupun sebagai tenaga kerja, bisa dijadikan gambaran itu.

Tanaman ini menjadi salah satu instrumen yang mendonasikan rezeki ke pundi-pundi keuangan perusahaan besar atau para ‘raja sawit’, paling tidak kepada delapan pengusaha besar di Indonesia. Yakni Bakrie and Brothers melalui PT Bakrie Sumatra Plantations, Sinarmas Grup melalui PT Golden Agri Resources, Raja Garuda Mas atau RGM dari PT Asian Agri, Astra Internasional Grup melalui PT Astra Agro Lestari Tbk, Napan Group dari PT PP London Sumatera Indonesia, Socfin Group melalui PT Socfindo, Salim Group melalui PT Salim Plantations, SIPEF Group dari PT Tolan Tiga.

Pada Januari 1998, Far Eastern Economic Review pernah menggambarkan hasil yang diperoleh para pengusaha dari minyak sawit. Salah satunya tentang rekor keuntungan PT PP London Sumatera Indonesia (Lonsum) yang ‘were going through the roof’. Dalam tulisan itu digambarkan, pada 1996 net profit Lonsum Rp80,6 miliar atau US$34 juta (dengan kurs dolar AS saat itu) dari hasil penjualan Rp208 miliar. Bahkan pada sembilan bulan pertama 1997, keuntungan dari total operating profit Lonsum mencapai Rp83 miliar atau tumbuh 17% (year on year). Pertumbuhan profit margin itu tidak terlepas dari hasil ekspor 60% produksi Lonsum, di mana harga CPO saat itu tengah booming. Bahkan pada saat nilai mata rupiah diambangkan pada pertengahan Agustus 1997, dan kemudian terdepresiasi 5% terhadap dolar AS, memberikan nilai tambahan 2% kepada penghasilan (earning) Lonsum.

Lahan kelapa sawit 10 pengusaha besar pada 1997
Group Perusahaan; Total lahan (ha); Lahan ditanami (ha)
Salim Group PT Salim Plantations ; 1.155.745; 95.310

Sinarmas Group PT Golden Agri Resources; 320.463; 113.562

Texmaco Group; 168.000; 35.500

Raja Garuda Mas PT Asian Agri ; 259.075 ; 96.330

Astra Group PT Astra Agro Lestari Tbk ; 192.375 ; 125.461

Hashim Group ; 105.282 ; 44.235

Surya Dumai Grup ; 154.133 ; 23.975

Napan Group PT PP London Sumatra indonesia Tbk ; 245.629 ; 78.944

Duta Palma Group ; 65.800 ; 25.450

Bakrie and Brothers Bakrie Sumatra Plantation ; 49.283 ; 23.392Total ; 2.854.738 ; 723.206

Sumber: Badan Planalogi (1999)

Sebelum ekonomi Indonesia ini terpuruk, dari data milik Center for International Forestry Research (Cifor) pada Juni 2000, luas lahan yang dikuasai para pengusaha itu, totalnya masih mencapai 1,25 juta hektare. Sedangkan total area perkebunan di Indonesia saat itu sekitar 2,51 juta hektare. Sisanya, 813.175 hektare dikuasai petani kecil (smallholders) dan 448.735 hektare dikuasai perkebunan negara (PTPN).

Lonjakan itu mulai terasa dari 1986 dan puncaknya pada 1996 di mana perkebunan swasta seluas 1,1 juta hektare. Padahal, pada 1986, masih 144.182 hektare. Ini berarti, setiap tahun (1986-1996), bertumbuh sekitar 24%, sedangkan pertumbuhan rata-rata pada per tahun periode 1969-1986, 7,6%.

Tanaman produksi

Sementara itu, dari data Badan Planalogi Dephut, pada 1997 luas lahan yang dikuasai sepuluh swasta besar di oil palm, termasuk Duta Palma Group, Texmaco, Surya Dumai Group dan Hashim Group, mencapai 2,85 juta hektare dan yang ditanami 723.206 ha.

Tapi itu pun tidak terlepas dari dukungan kebijakan pemerintah kepada investor untuk mengembangkan kelapa sawit. Begitu besar potensi ekonominya, pemerintah (1986-1996) membuka pintu lebar-lebar kepada swasta masuk ke sub-sektor perkebunan itu dengan memberika kelonggaran kredit untuk mengembangkan perkebunan yang ada, membuka perkebunan baru dan membuat fasilitas penggilingan (pengolahan). Pemerintah memberikan bunga 11% selama masa persiapan dan masa tanam dan 14% setelah tanaman produksi. Sebaliknya, ‘executing bank’ itu mendapatkan kredit dengan bunga 4% dari Bank Indonesia.

Industri CPO pun kian marak. Pada era itu (1992-1997), permintaan dunia (global demand) untuk minyak sawit tumbuh sekitar 7% per tahun. Di atas minyak tumbuhan lainnya yang tumbuh 4% per tahun. Dan konsumen terbesar minyak sawit ada di Asia seperti Indonesia, China, Malaysia, Pakistan yang konon karen menyukai makanan yang digoreng.

Di Indonesia, CPO yang diolah oleh sejumlah perusahaan, khususnya menjadi minyak masak, tumbuh 13% sejak 1986. Contohnya, pada 1986, konsumsi domestik baru 0,66 juta ton, pada 1997 menjadi 2,8 juta ton. Ini karena adanya lonjakan populasi dan income per kapita. Jika pada 1990, konsumsi per kapita baru 6,9 kg, pada 1995 menjadi 10,4 kg dan itu secara tidak langsung menegaskan adanya pertumbuhan 8,6% per tahun.

Namun yang menarik adalah soal pajak. Arifin S dan WR Susila, dari Pusat Studi Ekonomi, Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian, dalam Indonesia as a Major Oil Palm Producers: Prospects and Challenges, mengatakan minyak sawit Indonesia begitu menjanjikan karena Pemerintah Indonesia mendemonstrasikan komitmennya untuk membangun sub-sektor kelapa sawit dengan menawarkan sejumlah insentif, baik untuk investor domestik dan asing.

Sebagai contoh, sebelum krisis, pemerintah mengurangi (reduce) pajak ekspor (export tax) minyak sawit dari progresive menjadi 5%. Mempromosikan pengembangan perkebunan sawit di Indonesia bagian timur dengan skema Kredit Koperasi Primer Anggota (KKPA) dan mendesain bidang yang besar untuk perkebunan kelapa sawit.

Pada 1997, Presiden Soeharto mengumandangkan tekad untuk menggeser Malaysia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia dengan menggandakan luasan perkebunan sawit menjadi 5,5 juta hektare pada 2000. Dengan begitu produksi crude palm oil (CPO) Indonesia akan tumbuh dari 7,2 juta ton pada 2000 menjadi 10,6 juta ton pada 2005.

Sebagian besar perkebunan baru itu dibangun di kawasan Kalimantan, Sumatra, Sulawesi dan Irian Jaya. Setengah dari luasan perkebunan itu, ditawarkan kepada investor asing dari berbagai negara. Seperti Malaysia, Singapura, Inggris, Hong Kong, Belgia, Korea Selatan, dan British Virgin Islands