Kelapa sawit dan para ‘raja’ kebun sawit

Hujan itu membasahi ladang sawit dan peneroka di rumah, sedang sakitBermimpi tentang keluarga makmur dalam peritBermimpi tentang turun naik harga sawit. Itu adalah sepenggal sajak bertajuk ‘Hujan Memasuki Ladang Sawit’ karya Arisel BA. Sajak itu memperlihatkan betapa harga sawit, yang baik dan buruk, mampu membawa hal itu ke dalam mimpi pelakunya (petani atau produsen).

Memang, di antara sekian banyak sektor yang menjadi andalan penerimaan devisa Indonesia, kelapa sawit dan produk turunannya, salah satu yang menonjol. Hingga 2005, total nilai ekspor komoditas pertanian ini US$4,7 miliar.

Sepanjang sejarah keberadaan tanaman ini di Indonesia, bangsa ini tidak pernah tidak menerima hasil. Komoditas ini, bahkan tidak pernah merasa letih untuk memberikan uang banyak kepada bangsa ini, kendati sering ‘diperas’. Bahkan, dari tahun ke tahun, pertumbuhan sumbangan sawit terus memperlihatkan prestasi yang mengesankan. Indikatornya, banyak orang menjadi kaya raya dari tanaman (Elaeis guineensis) yang asalnya dari Afrika Barat ini, baik sebagai pengusaha maupun sebagai tenaga kerja, bisa dijadikan gambaran itu.

Tanaman ini menjadi salah satu instrumen yang mendonasikan rezeki ke pundi-pundi keuangan perusahaan besar atau para ‘raja sawit’, paling tidak kepada delapan pengusaha besar di Indonesia. Yakni Bakrie and Brothers melalui PT Bakrie Sumatra Plantations, Sinarmas Grup melalui PT Golden Agri Resources, Raja Garuda Mas atau RGM dari PT Asian Agri, Astra Internasional Grup melalui PT Astra Agro Lestari Tbk, Napan Group dari PT PP London Sumatera Indonesia, Socfin Group melalui PT Socfindo, Salim Group melalui PT Salim Plantations, SIPEF Group dari PT Tolan Tiga.

Pada Januari 1998, Far Eastern Economic Review pernah menggambarkan hasil yang diperoleh para pengusaha dari minyak sawit. Salah satunya tentang rekor keuntungan PT PP London Sumatera Indonesia (Lonsum) yang ‘were going through the roof’. Dalam tulisan itu digambarkan, pada 1996 net profit Lonsum Rp80,6 miliar atau US$34 juta (dengan kurs dolar AS saat itu) dari hasil penjualan Rp208 miliar. Bahkan pada sembilan bulan pertama 1997, keuntungan dari total operating profit Lonsum mencapai Rp83 miliar atau tumbuh 17% (year on year). Pertumbuhan profit margin itu tidak terlepas dari hasil ekspor 60% produksi Lonsum, di mana harga CPO saat itu tengah booming. Bahkan pada saat nilai mata rupiah diambangkan pada pertengahan Agustus 1997, dan kemudian terdepresiasi 5% terhadap dolar AS, memberikan nilai tambahan 2% kepada penghasilan (earning) Lonsum.

Lahan kelapa sawit 10 pengusaha besar pada 1997
Group Perusahaan; Total lahan (ha); Lahan ditanami (ha)
Salim Group PT Salim Plantations ; 1.155.745; 95.310

Sinarmas Group PT Golden Agri Resources; 320.463; 113.562

Texmaco Group; 168.000; 35.500

Raja Garuda Mas PT Asian Agri ; 259.075 ; 96.330

Astra Group PT Astra Agro Lestari Tbk ; 192.375 ; 125.461

Hashim Group ; 105.282 ; 44.235

Surya Dumai Grup ; 154.133 ; 23.975

Napan Group PT PP London Sumatra indonesia Tbk ; 245.629 ; 78.944

Duta Palma Group ; 65.800 ; 25.450

Bakrie and Brothers Bakrie Sumatra Plantation ; 49.283 ; 23.392Total ; 2.854.738 ; 723.206

Sumber: Badan Planalogi (1999)

Sebelum ekonomi Indonesia ini terpuruk, dari data milik Center for International Forestry Research (Cifor) pada Juni 2000, luas lahan yang dikuasai para pengusaha itu, totalnya masih mencapai 1,25 juta hektare. Sedangkan total area perkebunan di Indonesia saat itu sekitar 2,51 juta hektare. Sisanya, 813.175 hektare dikuasai petani kecil (smallholders) dan 448.735 hektare dikuasai perkebunan negara (PTPN).

Lonjakan itu mulai terasa dari 1986 dan puncaknya pada 1996 di mana perkebunan swasta seluas 1,1 juta hektare. Padahal, pada 1986, masih 144.182 hektare. Ini berarti, setiap tahun (1986-1996), bertumbuh sekitar 24%, sedangkan pertumbuhan rata-rata pada per tahun periode 1969-1986, 7,6%.

Tanaman produksi

Sementara itu, dari data Badan Planalogi Dephut, pada 1997 luas lahan yang dikuasai sepuluh swasta besar di oil palm, termasuk Duta Palma Group, Texmaco, Surya Dumai Group dan Hashim Group, mencapai 2,85 juta hektare dan yang ditanami 723.206 ha.

Tapi itu pun tidak terlepas dari dukungan kebijakan pemerintah kepada investor untuk mengembangkan kelapa sawit. Begitu besar potensi ekonominya, pemerintah (1986-1996) membuka pintu lebar-lebar kepada swasta masuk ke sub-sektor perkebunan itu dengan memberika kelonggaran kredit untuk mengembangkan perkebunan yang ada, membuka perkebunan baru dan membuat fasilitas penggilingan (pengolahan). Pemerintah memberikan bunga 11% selama masa persiapan dan masa tanam dan 14% setelah tanaman produksi. Sebaliknya, ‘executing bank’ itu mendapatkan kredit dengan bunga 4% dari Bank Indonesia.

Industri CPO pun kian marak. Pada era itu (1992-1997), permintaan dunia (global demand) untuk minyak sawit tumbuh sekitar 7% per tahun. Di atas minyak tumbuhan lainnya yang tumbuh 4% per tahun. Dan konsumen terbesar minyak sawit ada di Asia seperti Indonesia, China, Malaysia, Pakistan yang konon karen menyukai makanan yang digoreng.

Di Indonesia, CPO yang diolah oleh sejumlah perusahaan, khususnya menjadi minyak masak, tumbuh 13% sejak 1986. Contohnya, pada 1986, konsumsi domestik baru 0,66 juta ton, pada 1997 menjadi 2,8 juta ton. Ini karena adanya lonjakan populasi dan income per kapita. Jika pada 1990, konsumsi per kapita baru 6,9 kg, pada 1995 menjadi 10,4 kg dan itu secara tidak langsung menegaskan adanya pertumbuhan 8,6% per tahun.

Namun yang menarik adalah soal pajak. Arifin S dan WR Susila, dari Pusat Studi Ekonomi, Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian, dalam Indonesia as a Major Oil Palm Producers: Prospects and Challenges, mengatakan minyak sawit Indonesia begitu menjanjikan karena Pemerintah Indonesia mendemonstrasikan komitmennya untuk membangun sub-sektor kelapa sawit dengan menawarkan sejumlah insentif, baik untuk investor domestik dan asing.

Sebagai contoh, sebelum krisis, pemerintah mengurangi (reduce) pajak ekspor (export tax) minyak sawit dari progresive menjadi 5%. Mempromosikan pengembangan perkebunan sawit di Indonesia bagian timur dengan skema Kredit Koperasi Primer Anggota (KKPA) dan mendesain bidang yang besar untuk perkebunan kelapa sawit.

Pada 1997, Presiden Soeharto mengumandangkan tekad untuk menggeser Malaysia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia dengan menggandakan luasan perkebunan sawit menjadi 5,5 juta hektare pada 2000. Dengan begitu produksi crude palm oil (CPO) Indonesia akan tumbuh dari 7,2 juta ton pada 2000 menjadi 10,6 juta ton pada 2005.

Sebagian besar perkebunan baru itu dibangun di kawasan Kalimantan, Sumatra, Sulawesi dan Irian Jaya. Setengah dari luasan perkebunan itu, ditawarkan kepada investor asing dari berbagai negara. Seperti Malaysia, Singapura, Inggris, Hong Kong, Belgia, Korea Selatan, dan British Virgin Islands

About these ads

~ oleh lemankyoga pada November 15, 2007.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: